Friday, 8 August 2014

A Little Words for My Senpai


Jakarta, 8 Agustus 2014
Kepada,
Kakak kelas yang mungkin hanya pernah sekali bicara dengan saya
Di Jakarta

Salam hormat,
Mungkin hanya kecil probabilitas Anda akan membaca surat ini, mengingat kita bahkan tidak saling mengenal satu sama lain. Tetapi, jika ternyata surat ini tersampaikan, dan Anda saat ini sedang membaca surat ini, mohon dibaca sampai selesai dengan baik.
Mungkin wajah Anda tidak serupawan lelaki yang umumnya diidam-idamkan wanita, kelakuan Anda juga mungkin tidak sebaik lelaki-lelaki idaman itu. Bahkan, di pengelihatan saya, mungkin kelebihan Anda hanyalah kemampuan olahraga Anda dan sifat baik tersembunyi Anda. Tetapi, saya akan memberitahu Anda sesuatu yang mungkin tidak bisa Anda percaya saat ini. Ada seorang dari sahabat saya yang selalu memperhatikan Anda, dan bahkan ia—secara tidak langsung—tidak peduli akan semua kekurangan Anda. Sejak secara tidak sengaja memasuki sekolah yang menjadi tempat Anda belajar sejak TK sampai SMA, sahabat saya selalu memperhatikan Anda. Tidak jarang ia mengatai Anda, entah ketika kami tidak sengaja melihat Anda, ketika kami sedang memperhatikan Anda, atau ketika kami sedang berkomunikasi lewat jaringan sosial. Tetapi, saya tahu, itu hanya salah satu bentuk perasaan sukanya kepada Anda. Mungkin Anda berpikir ini hanyalah sebuah bualan, atau mungkin saya yang salah paham mengartikan perasaan sahabat. Tetapi, sayangnya, tidak. Suatu hari, ketika kami berkomunikasi melalui LINE, sahabat saya akhirnya mengakui, bahwa ia memang jatuh cinta pada Anda. Sulit dipercaya bukan? Saling kenal, tidak. Pernah kenal, tidak. Bahkan ia tidak tahu sikap Anda sebenarnya seperti apa. Apa mungkin sikap Anda seperti yang kami asumsikan selama ini, atau berbeda, kami tidak tahu. Tetapi, hal itu tidak menghalangi perasaan sahabat saya.
Saya bukan orang yang percaya pada hal bernama perasaan cinta. Bahkan, walau saya sudah merasakan perasaan yang disebut cinta oleh manusia itu, saya masih tidak mempercayainya. Sayangnya, sekarang saya harus menyaksikan perasaan itu dengan mata kepala saya sendiri. Dan, karena hal itu, ketidakpercayaan saya pada cinta perlahan mulai menghilang.
Sahabat saya sering sekali membicarakan Anda. Tidak jarang ia mencari tahu tentang Anda melalui jaringan sosial. Ingat tidak ingat, ia juga pernah mengirim LINE kepada Anda, walau ia hanya mengirim sebuah sticker. Mungkin Anda tidak tahu, betapa senangya ia ketika Anda membalas LINE-nya beberapa BULAN kemudian. Tetapi hanya malam itu saja Anda memberinya harapan. Setelah itu, Anda sudah tidak pernah bicara kepadanya. Bahkan, saya dan sahabat-sahabat saya yang lain sampai mencurigai bahwa itu hanya aksi iseng yang Anda rencanakan dengan sahabat-sahabat Anda karena kalian tahu sahabat saya sering memperhatikan Anda. Tetapi, kebenarannya? Kami tidak tahu, mungkin hanya Anda dan Tuhan yang tahu. Anda sibuk mungkin, atau Anda memang malas untuk bicara lagi dengan teman saya. Entahlah, kami tidak berani berkata bahwa asumsi kami adalah hal yang pasti. Bagaimanapun, itu hanya asumsi kami.
Walau begitu, mungkin Anda tidak percaya, tetapi … sahabat saya masih menyimpan rasa kepada Anda. Lucu, bukan? Cinta itu hal yang aneh, untuk saya begitu. Sudah diperlakukan seakan ia hanya selingan untuk mengobrol di saat Anda sedang bosan, kalian tidak saling mengenal, ia tidak tahu diri Anda sebenarnya seperti apa, tetapi ia masih saja menyimpan rasa pada Anda. Mengherankan, hanya itu yang dapat saya katakan. Bahkan, tidak jarang sahabat saya stres karena memikirkan Anda. Salah satu anak anjing ternakal di rumahnya pun ia beri nama dengan marga Anda. Ia berusaha menyapa Anda, tetapi tentunya itu membutuhkan keberanian yang besar, dan ia takut untuk menyapa Anda. Akhirnya, ia hanya melakukan hal itu di LINE dan ask.fm Anda. Sudah berkali-kali ia berusaha melupakan Anda, sampai semua foto Anda yang ia dapat dari jaringan sosial dan koneksinya berusaha ia hapus. Sayang, sekali lagi, semuanya usahanya itu selalu GAGAL TOTAL. Untuk menghapus sebuah foto Anda saja, rasanya ia seperti harus membuang sebuah benda yang sangat berharga baginya. Mungkin bagi Anda, perasaan sahabat saya hanya mengganggu Anda. Tetapi, tidak bisakan Anda menghargainya sedikit?
Kalau Anda membaca surat ini, saya berharap, sangat berharap, Anda setidaknya berusaha berterima kasih kepada sahabat saya—kalau Anda sudah mengingatnya dari cerita saya tentang LINE—karena ia sudah begitu mencintai Anda. Tidak semua orang dapat mencintai orang lain dengan cara yang sama sepertinya. Saya tidak memaksa Anda menerima perasaan sahabat saya. Saya hanya BERHARAP, Anda setidaknya akan memberikan ucapan terima kasih yang tulus kepada sahabat saya. Saya yakin, ia pasti akan sangat mengharagainya kalau Anda benar-benar melakukan hal itu dengan tulus, walau mungkin hanya lewat jaringan sosial.
Saya bukan penulis surat yang baik, jadi mungkin hanya itu yang bisa saya katakan kepada Anda. Maaf jika banyak kata-kata yang mungkin menyinggung Anda di surat ini. Yah, itu juga kalau surat ini sampai ke Anda dan Anda membaca surat ini. Untuk akhir kata, saya ingin berterima kasih. Terima kasih, Anda sudah menjadi bagian dari warna-warni kehidupan SMA sahabat saya—dan mungkin bagi saya dan sahabat-sahabat kami yang lain juga. Terima kasih, karena Anda sudah mengajarkan sahabat saya, bagaimana suka duka perasaan cinta. Terima kasih, Anda sudah menjadi penyemangat—secara tidak langsung—bagi sahabat saya. Terima kasih, atas kehadiran Anda di sekolah kami. Sekali lagi, terima kasih ….

Hormat saya,
Adik kelas yang tidak Anda kenal

No comments:

Post a Comment