Bodoh, aku lagi-lagi memikirkanmu ….
Aneh, kenapa kau terus menghantuiku diriku?
Kenapa
semua hal tentangmu selalu muncul dalam diriku?
Semuanya karena kau …, kau yang membuatku menjadi seperti ini ….
Kau yang membuatku menjadi mudah menangis.
Kau yang membuatku menjadi makhluk menyedihkan seperti ini ….
Ke mana perginya aku yang dulu?
Aku yang kuat, aku yang masih bisa tertawa walau kau
menyindirku.
Sekarang kau pergi, dan aku sudah tidak bisa tertawa tulus
setiap kali kau muncul di pikiran dan di hadapanku.
Kau yang dulu telah pergi, kau yang ramah telah pergi.
Yang tersisa hanya kau yang cuek, dan menganggapku seakan
aku adalah roh yang tembuh pandang di matamu.
Harusnya aku tidak peduli, atau minimal aku masih bisa
tertawa tulus sebagai
seseorang yang “sempat” mengenalmu setiap hal-hal tentangmu muncul,
tetapi ….
Kenapa dadaku rasanya sesak mengingatmu ..., mengingat
keadaan ini …?
Kenapa aku menangis …?
…
Kau yang dulu telah pergi bersamaan dengan aku yang dulu …. Kalian lenyap ….
Aku membencimu …, sangat membencimu ….
Membenci wajahmu, membenci kedua matamu.
Membenci senyumanmu, dan semuanya tentangmu …, aku membencinya ….
Aku benci matahari ….
Kau seperti matahari, matahari yang muncul melenyapkan
gelapnya malam …,
dan …
kegelapan malam itu adalah aku ….
Kau melenyapkanku, kegelapan malam itu, melenyapkan diriku
yang lama, diriku yang kuat dan cuek pada hal-hal kecil seperti ini ….
Ke mana? Ke mana diriku yang itu?
Kumohon, kembalikan ia ….
Aku
menyukainya …, sangat menyukainya ….
Masa-masa di
saat kau masih bisa bersenda tawa denganku ….
Masa-masa
saat kau masih sudi berbicara denganku ….
Masa-masa
saat kau tidak ragu untuk tersenyum kepadaku ….
Masa-masa
saat kita masih saling “mengenal” …, berteman ….
Kini, kuucapkan selamat tinggal padamu, aku akan benar-benar
memulai perjalanan untuk mencari kepingan diriku yang lama.
Kali ini, aku
tidak lagi membual,
kali ini aku sudah berada di jalan menuju kepingan diriku yang lama.
Terima kasih atas semua pelajaran yang telah kauberikan
kepadaku.
Maaf, beribu maaf selalu ingin kuucap padamu karena selama
ini aku selalu menyusahkan dan menyalahkanmu, padahal seharunya akulah yang
paling bersalah dalam hal ini.
Tidak seharusnya aku menyalahkanmu, seharusnya aku berterima
kasih, Berterima kasih karena kau sudah mengajarkan hal-hal menyakitkan ini
padaku, agar aku bisa menjadi lebih baik ke depannya.
…
Ah, bodoh, lagi-lagi aku menangis karenamu ….
君であいて,本当に良かった…。ありがとう,そして…さようなら…。
No comments:
Post a Comment