Saturday, 20 February 2016

Something Annoyed Me


Bukan bermaksud menyinggung orang. Kalau ada yang merasa, maaf. Tetapi, saya sendiri yakin orang yang ingin saya tegur saja tidak mengetahui akun saya.

Saya benar-benar miris lihat mayoritas orang beragama. Okelah kalau ingin beriman, tetapi apa itu alasan yang tepat untuk memaksa orang lain? Memaksakan pendapat/kepercayaan pribadi pada orang lain? Saya rasa itu bukan tindakan yang seharusnya dilakukan. Bahkan, tindakan paksaan itu sampai membuat orang menangis kesal. Apa itu terpuji? Bukan berarti saya menyalahkan karena seseorang beriman atau membuat orang lain menangis. Saya tahu menangis kadang bisa dilakukan tanpa alasan, namun yang saya maksud di sini bukan tanpa alasan.

Apa kata "belum/kurang digali" itu pantas diucapkan ketika melihat orang lain yang--terpaksa--mempelajari agama seseorang dan tetap mempercayai kepercayaan sendiri?

Sekali lagi, saya tidak bermaksud menyinggung, memojokkan, atau menyalahkan orang yang beragama--yang benar-benar menyatakan dirinya menganggap agama sengat penting maksud saya. Namun, tidak bisakah kita semua menerima perbedaan orang lain tanpa memaksakan kehendak.

Saya gila karena mendadak membahas agama? Ah, tidak, tidak. Ini ada umpannya, kok. Saya hanya miris lihat penguji ujian yang memojokkan--bahkan, bisa dikatakan "memaksa"--orang-orang yang berbeda agama dari agama utama sekolah saya untuk menerima kepercayaan para penguji.

Maaf kalau terdengar kurang aja, tetapi saya rasa para penguji sebenarnya lebih kurang ajar dari saya dengan memaksa MURID sampai menangis. Apa itu pantas dilakukan seorang guru pada muridnya? Memaksa? Membuat menangis? Bahkan ada yang sampai setengah berteriak marah dan terbawa dendam lama.

No comments:

Post a Comment