Wednesday, 5 November 2014
Saturday, 30 August 2014
Friday, 8 August 2014
A Little Words for My Senpai
Jakarta, 8 Agustus 2014
Kepada,
Kakak kelas yang mungkin hanya pernah sekali bicara dengan saya
Di Jakarta
Salam hormat,
Mungkin hanya kecil probabilitas Anda akan membaca surat
ini, mengingat kita bahkan tidak saling mengenal satu sama lain. Tetapi, jika ternyata surat ini tersampaikan, dan
Anda saat ini sedang membaca surat ini, mohon dibaca sampai selesai dengan baik.
Mungkin wajah Anda tidak serupawan lelaki yang umumnya
diidam-idamkan wanita, kelakuan Anda juga mungkin tidak sebaik lelaki-lelaki
idaman itu. Bahkan, di pengelihatan saya,
mungkin kelebihan Anda hanyalah
kemampuan olahraga Anda dan sifat baik tersembunyi Anda. Tetapi, saya akan
memberitahu Anda sesuatu yang
mungkin tidak bisa Anda percaya saat ini. Ada seorang dari sahabat saya yang selalu memperhatikan Anda,
dan bahkan ia—secara tidak langsung—tidak
peduli akan semua kekurangan Anda. Sejak secara tidak sengaja memasuki sekolah
yang menjadi tempat Anda
belajar sejak TK sampai SMA, sahabat saya
selalu memperhatikan Anda. Tidak jarang ia mengatai Anda, entah ketika kami
tidak sengaja melihat Anda, ketika kami sedang memperhatikan Anda, atau ketika
kami sedang berkomunikasi lewat jaringan sosial. Tetapi, saya tahu, itu hanya
salah satu bentuk perasaan sukanya kepada Anda. Mungkin Anda berpikir
ini hanyalah sebuah
bualan, atau mungkin saya yang salah paham mengartikan perasaan sahabat. Tetapi, sayangnya, tidak.
Suatu hari, ketika kami berkomunikasi melalui LINE, sahabat saya akhirnya mengakui, bahwa ia memang jatuh cinta
pada Anda. Sulit dipercaya bukan? Saling kenal, tidak. Pernah kenal, tidak.
Bahkan ia tidak tahu sikap Anda sebenarnya seperti apa. Apa mungkin sikap Anda seperti
yang kami asumsikan selama ini, atau berbeda, kami tidak tahu. Tetapi, hal itu
tidak menghalangi perasaan sahabat saya.
Saya bukan
orang yang percaya pada hal bernama perasaan cinta. Bahkan, walau saya sudah merasakan
perasaan yang disebut cinta oleh manusia itu, saya masih tidak mempercayainya.
Sayangnya, sekarang saya harus menyaksikan perasaan itu dengan mata kepala saya
sendiri. Dan, karena hal itu, ketidakpercayaan saya pada cinta perlahan mulai
menghilang.
Sahabat
saya sering sekali membicarakan Anda. Tidak jarang ia mencari tahu tentang Anda
melalui jaringan sosial. Ingat tidak ingat, ia juga pernah mengirim LINE kepada Anda, walau ia hanya
mengirim sebuah sticker. Mungkin Anda
tidak tahu, betapa senangya ia ketika Anda membalas LINE-nya beberapa BULAN kemudian. Tetapi hanya malam itu saja Anda
memberinya harapan. Setelah itu, Anda sudah tidak pernah bicara kepadanya.
Bahkan, saya dan sahabat-sahabat saya yang lain sampai mencurigai bahwa itu
hanya aksi iseng yang Anda rencanakan dengan sahabat-sahabat Anda karena kalian
tahu sahabat saya sering memperhatikan Anda. Tetapi, kebenarannya? Kami tidak
tahu, mungkin hanya Anda dan Tuhan yang tahu. Anda sibuk mungkin, atau Anda
memang malas untuk bicara lagi dengan teman saya. Entahlah, kami tidak berani berkata
bahwa asumsi kami adalah hal yang pasti. Bagaimanapun, itu hanya asumsi kami.
Walau
begitu, mungkin Anda tidak percaya, tetapi … sahabat saya masih menyimpan rasa
kepada Anda. Lucu, bukan? Cinta itu hal yang aneh, untuk saya begitu. Sudah
diperlakukan seakan ia hanya selingan untuk mengobrol di saat Anda sedang bosan,
kalian tidak saling mengenal, ia tidak tahu diri Anda sebenarnya seperti apa,
tetapi ia masih saja menyimpan rasa pada Anda. Mengherankan, hanya itu yang
dapat saya katakan. Bahkan, tidak jarang sahabat saya stres karena memikirkan
Anda. Salah satu anak anjing ternakal di rumahnya pun ia beri nama dengan marga
Anda. Ia berusaha menyapa Anda, tetapi tentunya itu membutuhkan keberanian yang
besar, dan ia takut untuk menyapa Anda. Akhirnya, ia hanya melakukan hal itu di
LINE dan ask.fm Anda. Sudah berkali-kali ia berusaha melupakan Anda, sampai
semua foto Anda yang ia dapat dari jaringan sosial dan koneksinya berusaha ia
hapus. Sayang, sekali lagi, semuanya usahanya itu selalu GAGAL TOTAL. Untuk
menghapus sebuah foto Anda saja, rasanya ia seperti harus membuang sebuah benda
yang sangat berharga baginya. Mungkin bagi Anda, perasaan sahabat saya hanya
mengganggu Anda. Tetapi, tidak bisakan Anda menghargainya sedikit?
Kalau Anda
membaca surat ini, saya berharap, sangat
berharap, Anda setidaknya berusaha berterima kasih kepada sahabat saya—kalau
Anda sudah mengingatnya dari cerita saya tentang LINE—karena ia sudah begitu mencintai Anda. Tidak semua orang dapat
mencintai orang lain dengan cara yang sama sepertinya. Saya tidak memaksa Anda
menerima perasaan sahabat saya. Saya hanya BERHARAP,
Anda setidaknya akan memberikan ucapan terima kasih yang tulus kepada sahabat
saya. Saya yakin, ia pasti akan sangat mengharagainya kalau Anda benar-benar melakukan
hal itu dengan tulus, walau mungkin hanya lewat jaringan sosial.
Saya bukan
penulis surat yang baik, jadi mungkin hanya itu yang bisa saya katakan kepada
Anda. Maaf jika banyak kata-kata yang mungkin menyinggung Anda di surat ini. Yah,
itu juga kalau surat ini sampai ke Anda dan Anda membaca surat ini. Untuk akhir
kata, saya ingin berterima kasih. Terima kasih, Anda sudah menjadi bagian dari
warna-warni kehidupan SMA sahabat saya—dan mungkin bagi saya dan
sahabat-sahabat kami yang lain juga. Terima kasih, karena Anda sudah
mengajarkan sahabat saya, bagaimana suka duka perasaan cinta. Terima kasih,
Anda sudah menjadi penyemangat—secara tidak langsung—bagi sahabat saya. Terima
kasih, atas kehadiran Anda di sekolah kami. Sekali lagi, terima kasih ….
Hormat saya,
Adik kelas yang tidak Anda kenal
Subscribe to:
Comments (Atom)