Sunday, 13 September 2015

It's Happening ... Again ....


Aku ini sensitif, aku akui itu. Aku tahu, kok, kesensitifanku itu agak berlebihan dan mungkin melewati batas.

Kalau boleh jujur, awalnya, kukira aku sudah bisa mengendalikan kesensitifanku. Kukira, aku cukup diam jika kesensitifanku kembali mengambil alih diriku. Aku cukup menyendiri agar tidak menyakiti orang lain.

Namun, aku sadar. Sepertinya solusi yang kuciptakan pun tidak menyelesaikan semuanya. Menyendiri terus-menerus tidak membuat pikiran negatif yang dihasilkan kesensitifanku berkurang. Yang ada, aku semakin menyalahkan sekitarku dan ... diriku ....

... Aku ini makhluk menjijikkan ....

Aku salah, aku tahu. Aku selalu berpikir negatif dan merasa takut tanpa aku sendiri mau. Pikiranku kadang tidak bisa kukendalikan. Satu kalimat dari orang lain kadang bisa kuanggap sebagai bentuk diskriminasi terhadapku.

Kupikir, aku sudah bisa menahan pikiran-pikiran negatif itu kalau-kalau mereka muncul. Nyatanya, aku sendiri tanpa sadar ataupun sadar masih menanggapi pikiran-pikiran itu dengan tindakan bodoh.

Menjauh, merasa bersalah, merasa didiskriminasi, merasa pemikiranku benar. Sebenarnya, seberapa menijikkannya jiwa yang tinggal di dalam tubuh ini? Jiwa ini tidak suci. Ia kotor. Ia bodoh. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

Sempat aku berpikir untuk menjauh sebelum pikiran negatifku membeludak. Aku hanya tidak ingin candaan sahabat-sahabatku dalam bentuk apa pun menjadi pisau dalam pikiranku, dan akhirnya aku malah melempar pisau ke meraka dalam bentuk kata-kata atau tindakan nyata.

Aku menyugesti diriku, "Mereka hanya berkata, berkomunikasi, bersosialisasi, bukan menyakitiku. Mereka tidak berniat menyinggungku. Mereka tidak berkata bahwa aku salah." Namun, apa dayaku? Pikiran bodohku tetap menang. Pikiran bodohku mentransformasi kata-kata dan tindakan orang lain menjadi pisau bagiku.

Kini aku cukup bisa menenangkan diri ..., walau tak sepenuhnya .... Jadi, kuucapkan ... maaf ....

Aku tidak bermaksud berpikir negatif tentang ucapan atau tindakan kalian. Hanya saja, aku sepertinya terlalu lemah untuk menguasai pikiranku sendiri. Aku benar-benar minta maaf.

Mungkin kalian tidak tahu tentang pikiran busukku dari kemarin, karena aku sibuk menarik diri agar tidak menyakiti kalian. Maaf, aku benar-benar minta maaf. Maaf kalau aku berpikir jelek di belakang kalian. Maaf jika ternyata ada tindakanku yang membuat kalian sadar tentang pikiran negatifku dan tindakan itu malah menyakiti kalian.

... Maaf ....

Sebisa mungkin, aku akan menenangkan pikiranku ini. Aku tidak akan menjauhi kalian lagi, tenang saja. Aku tahu itu agak bodoh, karena pada akhirnya keinginan meninggalkan kalian malah bersarang di otakku.

Jadi, kumohon ... maafkan aku ....

Aku hanya manusia biasa, aku tidak sempurna. Aku punya berbagai kelemahan, termasuk tentang pikiranku ini. Kuharap kalian tidak keberatan ketika tahu kalian punya sahabat seperti ini.

No comments:

Post a Comment